Sponsors Link

Saraf Tulang Belakang Putus? Ketahui Pertolongan Pertamanya

Sponsors Link

Tulang belakang merupakan sekumpulan tulang yang berjumlah 33 ruas dan saling berhubungan satu dengan lainnya membentuk sumbu tubuh. Tulang belakang memanjang dari dasar tengkorak hingga ke bagian ekor. Di sepanjang tulang belakang terdapat banyak serabut-serabut saraf besar yang menyusun sistem saraf pusat. Saraf pada tulang belakang memiliki peranan yang sangat penting karena berfungsi sebagai pusat dari saraf-saraf kecil lainnya. Pada kondisi tertentu, misalnya karena kecelakaan, saraf pada tulang belakang dapat putus, sehingga pertolongan pada cedera atau kecelakaan yang mengenai tulang belakang harus dilakukan dengan hati-hati. Lalu jika saraf tulang belakang putus, bagaimana pertolongan pertamanya?

ads

Penyebab dan Faktor Resiko

Saraf tulang belakang putus atau dikenal dengan istilah spinal cord injury merupakan kondisi saraf tulang belakang yang cedera, biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan di tempat kerja, jatuh, atau kecelakaan saat olah raga. Spinal cord injury lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Beberapa faktor resiko utama terjadinya saraf tulang belakang putus di antaranya yaitu:

  • Usia
  • Jenis kelamin
  • Konsumsi alkohol
  • Konsumsi narkoba

Bagian tulang belakang yang paling sering terkena yaitu ruas tulang leher ke 5, 6, 7; tulang punggung ke 12, dan tulang pinggang ke 1.

Kerusakan pada saraf tulang belakang dapat berupa kerusakan permanen ataupun sementara. Cedera saraf tulang belakang atau saraf tulang belakang yang putus dapat terjadi secara primer ataupun sekunder. Cedera primer biasanya disebabkan oleh trauma atau perlukaan langsung dan biasanya bersifat permanen. Sementara itu, cedera sekunder biasanya terjadi akibat kondisi pengikisan atau kerusakan saraf sebelumnya dimana saraf mengalami pembengkakan dan tidak bersatu dengan bagian saraf lainnya. Reaksi sekunder tersebut diperkirakan dapat disembuhkan pada 4-6 jam setelah cedera. Namun jika kerusakan sudah tidak dapat diperbaiki, maka masih perlu dilakukan pertolongan untuk mencegah terjadinya perkembangan kerusakan parsial menjadi kerusakan total.

Gejala

Gejala yang muncul sangat bergantung pada jenis dan tingkat cedera, serta bagian tulang belakang yang terkena. Kerusakan pada saraf tulang belakang akan menyebabkan gangguan fungsi saraf-saraf di bawahnya, misalnya ketika yang terkena adalah tulang leher ke 5, maka saraf di bawah tulang leher 5 dan seterusnya akan mengalami gangguan.

Gangguan dapat berupa kehilangan fungsi sensorik atau tidak dapat merasakan rangsang, misalnya mati rasa atau tidak dapat merasakan sentuhan, panas atau tekanan pada area tubuh. Selain itu gangguan juga dapat berupa kelumpuhan akibat cedera tulang belakang, dimana terjadi ketidakmampuan untuk menggerakkan bagian tubuh. Gangguan juga dapat berupa ketidakmampuan mengontrol buang air besar dan kecil. Jika cedera mengenai bagian leher maka dapat beresiko terjadi disfungsi pada otot pernapasan dan diafragma yang dapat menyebabkan gagal napas hingga kematian. Selain gangguan saraf, tulang belakang sakit juga dapat dirasakan jika pasien dalam kondisi sadar. Spinal cord injury sebagai penyebab tulang belakang sakit mengakibatkan nyeri dirasakan lebih pada punggung atau leher dan menjalar sepanjang saraf yang terkena.

Pertolongan Pertama

Penanganan segera pasien dengan cedera saraf tulang belakang sangat penting dilakukan. Kesalahan dan keterlambatan pertolongan dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf yang lebih lanjut dan parah. Orang yang mengalami kecelakaan lalu lintas, cedera olah raga, jatuh, atau terkena trauma langsung pada bagian kepala dan leher perlu dianggap mengalami spinal cord injury sampai kepastian cedera sebenarnya diketahui. Beberapa hal yang dapat dilakukan ketika terjadi saraf tulang belakang putus di antaranya yaitu sebagai berikut.


1. Hubungi telepon darurat atau rumah sakit terdekat

Hubungi telepon darurat atau rumah sakit terdekat dapat membantu korban mendapat pertolongan medis dengan segera. Pertolongan medis oleh tenaga medis ahli dapat memberikan pertolongan yang tepat dan lebih baik. Usahakan segera menghubungi layanan telepon darurat atau rumah sakit terdekat ketika terjadi kecelakaan, khususnya ketika korban dicurigai mengalami cedera tulang belakang dan kepala.

2. Pastikan untuk tidak melakukan pergerakan

Ketika terjadi cedera, pasien tidak boleh digerakan atau dimobilisasi. Berikan handuk atau benda yang agak berat di samping leher atau pegang agar tidak terjadi pergerakan. Pertahankan agar posisi kepala, leher dan tulang belakang tetap netral untuk mencegah terjadinya kerusakan menjadi permanen. Cegah kepala korban agar tidak menekuk, memutar, atau menengadah. Selain dengan bantalan handuk dapat juga dilakukan dengan menjaga kepala korban di bagian sekitar telinga dengan tangan.


3. Jangan buka helm

Jika korban yang mengalami kecelakaan menggunakan helm, jangan buka helm yang dipakai. Tindakan membuka helm sangat beresiko. Saat melepas helm, tentu akan terjadi pergerakan pada bagian leher dan kepala sehingga rentan mengalami kerusakan yang lebih parah.

4. Jangan memindahkan korban sendirian

Ketika korban muntah atau mengeluarkan sesuatu dari mulutnya, yang memungkinkan tersedak, atau ketika akan memindahkan ke tempat lain, jangan lakukan pemindahan sendirian. Jika memungkinkan usahakan pemindahan dilakukan setidaknya oleh empat orang. Satu orang menjaga bagian kepala korban dan sisanya bagian tubuh yang lain. Saat memindahkan usahakan tulang belakang selalu lurus. Tidak boleh ada bagian tubuh yang terpelintir atau tertekuk.

5. Rujuk ke unit gawat darurat

Korban harus segera dibawa ke unit gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan medis. Pertolongan dari berbagai tenaga medis dan berbagai peralatan medis akan membantu perubahan dan gejala-gejala yang timbul khususnya beberapa jam pertama setelah cedera.

Setelah dilakukan pertolongan, penderita saraf tulang belakang putus harus menjalani pengobatan dan perawatan intensif. Tindakan medis sangat penting dilakukan untuk mencegah terjadinya disabilitas permanen atau untuk memanajemen gejala lain yang mungkin timbul.

Sponsors Link
, ,
Post Date: Wednesday 21st, February 2018 / 05:21 Oleh :
Kategori : Pengobatan